MAMPIR JUGA KE KANDANGAGAS »

6.1.11

SUGAR SUGAR Bagian 7

Happy new year, bitches!

haha.... sori, sori. GG menghilang dari radar perinternetan dalam jangka waktu yang cukup lama karena persoalan domestik. Tepatnya, karena my father grounded me, like, for a lifetime. Yah, tapi ternyata pas awal tahun kemarin, GG dibebaskan untuk kembali bergaul di dunia nyata. All last year's drama that involved my daddy's rage, a much-much-older (and apparently, restricted type of) boyfriend, and boycott to all good things in my life (except credit card GG, thank God... masih bisa shopping di masa-masa Jahiliyah itu hihihi), is finally ended.

And now, I'm here. Dengan utang yang lupa dibayar: SUGAR SUGAR part 7 dan bagian akhir fan fiction-nya Agnes yang nggak sempat diposting. All for you, sisters!

Berhubung GG masih agak diskonek dengan dunia luar (halah), apa temen-temen punya usulan mo artikel macam apa dimuat di blog kesayangan kita ini? just let me know.


Thousand kisses,
GG

p.s. white is my new black. i'm wearing a beaded rose ring in my finger right now. and no, camo harem pants will never be caled 'fashionable'. LOL

Agnes Retno's Fan Fiction: LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Dua)

Aku teringat saat aku punya Clique yang beranggotakan 6 orang. Cewek berjumlah 3 orang dan sisanya cowok. Kami ber-6 bertemu karena duduk di kelas yang sama, yaitu kelas Biologi.

Aldo Purwanto adalah ketua Clique, ia berpacaran dengan anggota Clique kami yang bernama Reni. Sekedar Info, Reni sangat ingin Clique kami populer seperti Rashi and the gank. Social Climber adalah julukan yang tepat untuk menggambarkan Reni. Ia sering menyuruh kami mengenakan pakaian ini itu yang menurutnya keren dan berharap bisa menjadi trendsetter di VIS. Padahal pilihan pakaiannya membuat aku dan cewek-cewek Clique terlihat seperti, maaf, pelacur.

Reni juga sempat cemburu karena aku pernah membuatkan Aldo bubur waktu ia sakit. Well, Aldo yang minta karena Reni tidak bisa memasak untuknya. Aku sendiri menganggap, kita ini satu Clique, wajar dong perhatian? Toh aku tidak hanya perhatian pada cowok. Aku juga perhatian pada anggota Clique yang cewek.
Sekarang tentang Otnil dan Julie. Pada dasarnya mereka baik. Sayangnya Julie suka meremehkan orang, membicarakan secara terang-terangan sehingga sering terjadi pertengkaran antara Julie dan cewek di luar anggota Clique. Sedangkan Otnil, aku tidak punya masalah dengannya. Kata Aldo, setelah aku keluar Clique, Otnil dijejali cerita berlebihan oleh Reni tentang kecemburuannya. Hal itu membuat Otnil mengira aku cewek yang suka mengganggu hubungan orang. Berawal dari situ, ia menyebutku cewek murahan.

Sisanya, Leonard. Ia muak melihat tingkah dan pola pikir anggota Clique. Ketika aku memutuskan untuk keluar dari Clique, ia memilih untuk ikut keluar denganku.

Tok tok tok...

“Alya, mama masuk ya.”

Mendengar namaku dipanggil, lamunanku langsung buyar. Aku terduduk tegak. Dari balik pintu, muncul sosok mama. Ia membawa sebuah bungkusan mungil yang terbalut dalam kain putih. Mama duduk di sisi tempat tidur.

“Sudah mau tidur?” tanya mama lembut. Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Mama punya kejutan buat kamu,” senyum mama melebar tanpa bisa ia tahan. Ia membuka bungkusan mungil yang ia bawa. Di dalam bungkusan itu, berbaring sebuah logam berwarna perak. Sebuah kunci. “Kendaraan kamu sudah sampai di rumah. Masa pembelajaran kamu naik kendaraan umum sudah selesai.”

*

“Jadi, cerita kalau lo nggak dikasih kendaraan.... Gara-gara nyokap nyuruh lo belajar naik kendaraan umum itu.... Beneran?”

Aku menjawab pertanyaan Ephine dengan anggukan mantap. Leonard yang baru saja melahap habis sepiring nasi gorengnya langsung tergelak. “Nyokap lo ngira lo belajar naik kendaraan umum.. Padahal lo selalu ikut gue. Kacau kacau...”.

Aku memicingkan mata dan berlagak sok galak, “Itu kan karena elo berbaik hati menawarkan jasa angkut ke depan gang rumah gue. Jadi gue nggak perlu naik kendaraan umum..”

Leonard terlihat menahan tawanya, “Lagian waktu pertama kali elo pulang sekolah naik angkot, lo langsung nyasar berjam-jam. Ujung-ujungnya lo nelpon gue karena nggak tahu arah... Mana tega gue ngelepas lo sendirian di jalan, ada juga ntar nyusahin gue.”

Giliran Ephine dan teman-teman yang lain tertawa terpingkal-pingkal.

“Terus, lo dapet mobil apa dari nyokap?” tanya Ephine penasaran.

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum memamerkan deretan gigiku. “Mobil mini berkelir putih.”

*

Ketika bel tanda usai sekolah berbunyi, aku memasukkan buku pelajaran dan kotak pensil ke dalam Fendi Twins Woven Raffia-ku. Beberapa teman sekelasku tampak tidak melepaskan pandangan dari tas berkelir kuning ini.

“Love the tote. Looks pretty and useful.” Tulus, Helena yang duduk di depanku tersenyum.

“Thank you, dear.” Mataku tertuju pada tas berkelir abu-abu yang Helena pakai. “Mulberry Alexa? It looks gorgeous to me.”

“Thanks, Darling. Sebenarnya agak susah memadukan bentuk klasik ini dengan seragam VIS.” Ucap Helena berseri-seri. “Oh well, gotta go. See you tomorrow, Al.”

Sosok Helena menghilang di balik pintu kelas, tergantikan oleh Ephine. “Pulang, yuk!” sahut sahabatku itu. “Hari ini gue dijemput supir, tapi gue tetep mau ikut lo ke parkiran. Leo dkk udah di parkiran, yuk, kita susul mereka!”

Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah cepat Ephine menuju parkiran. Sambil berjalan, Ephine bercerita tentang praktik membedah kelinci di kelas Biologinya. Ia bercerita dengan bersemangat dan berapi-api. Membuatku tertawa dan bergidik ngeri mendengar kelinci yang diracuni lalu di bedah.

Sampai di area parkir, aku melihat sosok Leo di balik mobil sedan berkelir hitamnya. Aku dan Ephine berlari kecil menghampiri cowok bertubuh atletis itu. Namun, sebelum kami sampai di tempatnya, aku melihat sosok lain berdiri di depan Leo dan kawan-kawan.

Otnil.

Ngapain si culun itu di sini?

“Gue harap lo lebih menjaga kata-kata lo di depan Alya.” Kata Leo dengan penekanan.

“Kok lo ikut campur sih?” balas Otnil tidak suka. “Gue kan nggak ada masalah sama lo.”

“Lo sendiri? Bukannya dulu elo dan Alya nggak ada masalah?” Leo terlihat tenang, tapi aku bisa merasakan kemarahan di balik suaranya. “Bisa-bisanya lo ngatain dia.”
Otnil hanya bisa diam. “Lo nggak tahu apa-apa tentang Alya!!”

“ELO YANG NGGAK MAU TAHU TENTANG DIA!” Leonard memukul kap mesin mobilnya, tanda kesabarannya sudah habis. Aduh, sayang mobilmu, Le.

Aku segera berjalan menghampiri Otnil. Leonard tampak kaget. Sedangkan Ephine berusaha mengejarku lalu ditahan oleh Leonard. Aku mendorong cowok yang tingginya tidak jauh berbeda denganku. Punggung cowok itu, Otnil, menabrak kap mesin Honda Jazz berkelir silver-nya. Tentu saja aku tidak membiarkan si culun ini berbicara.

“Gue nggak akan menghabiskan banyak waktu untuk lo. Dengarkan baik-baik..” aku meremas kerah cowok itu.

“Otnil Wibowo, gue nggak minta lo menarik semua omongan lo. Tapi, kalau gue denger lo ngatain gue dengan sebutan kasar lagi, gue bisa memastikan hidup lo di VIS nggak akan setenang sekarang.” Gertakku. “Jangan kira gue nggak bisa menyebarkan fakta menyedihkan tentang lo untuk membalas perkataan lo tempo hari.”

“Apa...maksud... lo?” tanya Otnil terbata.

“Otnil, sayang, lo nggak lupa dengan nasib Maylanie yang elo porotin itu kan? Gawd... Sebagai seorang cowok, sangat memalukan kalau berani morotin mantan ceweknya demi memenuhi kebutuhan Julie, cewek lo sekarang..... Lo punya harga diri sebagai cowok nggak sih?” Aku memutar bola mataku. “Yang nggak modal itu, gue atau elo sih?”
Aku menjauhkan diriku dari Otnil yang terlihat lemas. “Gue harap lo menjaga tingkah laku lo. Sikap lo bisa menjadi bumerang buat diri lo sendiri. Jangan menilai orang dari penampilan atau uangnya saja...karena lo nggak selalu tahu siapa sebenarnya orang yang lo hadapi. Nggak usah berlagak loe paling kaya di sini jadi berani macam-macam, orang lain tuh bisa ketawa ngeliat kelakuan lo.”

Ada jeda panjang sebelum aku melanjutkan, “Anyway, I’m a bitch when I want to be. So, behave yourself, dumb ass.”

Aku menghampiri Leonard dan Ephine. Mereka terlihat cemas. Ekspresi wajah mereka membuatku terkikik geli. “Sudah selesai kok masalahnya, percaya sama aku.... ya...” sahutku. “Le, makasih udah ngebelain gue.” Aku mengelus punggung Leonard dengan lembut. Berharap bisa meredakan emosinya.

“Mau pulang sekarang?” tanya Ephine, ia tampak tidak sudi melihat Otnil. Aku mengangguk dan mengambil kunci mobil dari tas Fendi-ku.

“Wow, mobil baru. Gue nggak perlu nganter lo lagi dong?” tanya Leonard berseri-seri.

“Benar sekali... ,Terima kasih atas jasa angkutmu selama 4 bulan ini, Agen Leo.”
Balasku.

“Bayarannya mana?” tagih Leonard. Rasanya lega melihat ia sudah bisa tersenyum jahil.

“Kan udah dibayar pake senyum dan terima kasih.” Sahutku sambil membuka pintu Ford Focus berkelir putihku.

“Ogah banget. Gimana kalau elo gantian nyetirin gue. Kaki gue juga perlu istirahat.” Leonard membuka pintu sedan berkelir hitamnya.

“Boleh saja. Tapi nyetirin lo membutuhkan banyak asupan makanan. Jadi, minimal lo harus ngasih gue makanan dari Tamani Cafe.” Aku tergelak, begitu juga Ephine.

“Diem!”
*

23.8.10

SUGAR SUGAR (bagian 6)

Hello, y'all!

GG is back. Dan datengnya bersama SUGAR SUGAR bagian keenam. Kali ini, GG nggak ngerjain sendirian. SUGAR SUGAR bagian 6 ini adalah hasil kolaborasi GG dengan pembaca Glam Girls yang oh-so-glamorous, Jenny Thalia Faurine.

Pengen seperti dia? Kirimkan lanjutan Sugar Sugar ke ggheadquarters@gmail.com

Selamat membaca!

Heart ya,

GG

http://sugarsugarbygg.blogspot.com/2010/08/sugar-sugar-bagian-6.html

9.8.10

Agnes Retno's Fan Fiction: LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Satu)


Salah satu temen glam GG, Agnes, ngirimin fan fiction ber-setting Voltaire International School.

Penjelasan tentang Fan Fiction:
Karakter utama dalam Fan Fiction ini bernama Alya. Ia memiliki 3 orang teman dekat bernama Ephine dan Leonard.
Alya menganggap kehidupannya di VIS cukup menyenangkan bila dihabiskan bersama teman-temannya itu.Namun, ternyata ia tidak bisa terpisahkan dari bayang-bayang anggota mantan clique-nya. Pernyataan pedas dari anggota mantan clique Alya membuat ia harus bersikap dewasa dalam menghadapinya. Namun, kalau orang-orang itu tidak digertak sedikit, mereka tidak akan berhenti berkicau, bukan?

XoXo,

Agnes Retno

Well, GG juga nggak mau banyak basa-basi lagi, Girls. Enjoy!
------------------------------------------------------------------------------------
LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Satu)



Untuk kesekian kalinya, aku menarik napas panjang dan mengembuskannya. Jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah. Murid-murid berhamburan keluar kelas, begitu juga aku. Sambil berjalan, bola mataku mengamati cewek-cewek bersliweran di koridor VIS –Voltaire International School— yang lebih mirip dengan catwalk.

Hey, Nice bag and interesting details.” Komentarku ketika seorang cewek berambut hitam panjang datang menghampiriku.

“Thank you. It’s Notting Hill Design bag.” Jawab Ephine sambil tersenyum, ia menekuk sikutnya sehingga tas berwarna biru muda itu terlihat lebih dekat denganku. Cewek berkulit putih itu melihat keraguan di wajahku, “Never heard of the designer, huh?”
Aku mengangguk pelan.

Me neither. This bag was worn by Leighton Meester on Gossip Girl TV show.
Tas yang terlihat simpel, juga menarik. Cocok untuk digunakan pelajar seperti kami. Walaupun aku tidak pernah mendengar nama desainernya, aku tahu tas yang Ephine –sahabatku— pakai ini memiliki kualitas yang sangat baik.

Hey girls, sudah belum ngomongin tasnya? Kita laper nih.” Leonard, cowok bertubuh 180cm, mengingatkanku kalau kami sedang tidak sendirian. Di belakangku, ada 3 cowok yang daritadi memperhatikan pembicaraanku dengan Ephine. Salah satunya adalah Leonard.

“Sorriii... kalau udah ngomongin tas, suka lupa sama keadaan sekitar.” Ephine terkikik geli. Aku jadi ikutan ketawa melihat permintaan maaf Ephine yang lucu.
Josephine Renata, Ephine, adalah seorang cewek bertubuh ideal, berkulit putih, dan rambut hitamnya terurai indah. Ia juga mengaggumi keindahan tas, sama sepertiku. Selain itu, cewek penggemar sushi ini juga memiliki otak yang cerdas, terbukti dari nilainya yang tidak pernah kurang dari angka 80.

“Alya, kita mau makan dimana?” tanya Ephine ceria.

“Pecel Lele pinggiran jalan.” Aku tersenyum jahil.

WHAT? NO FREAKIN WAY!!”

“Enak loh, lo harus coba.” Aku tertawa melihat raut wajah sahabatku yang berubah menjadi gahar. Sedetik kemudian, Ephine jadi merinding sendiri memikirkan makan di pinggir jalan.

Seperti yang kalian dengar, namaku Alya Lavandale. Aku terlahir di keluarga yang bekerja di bidang Otomotif dan komunikasi. Secara ekonomi, menurutku sih, keluarga kami biasa saja, nggak kaya banget dibandingkan keluarga Pradakso itu.
Lalu apalagi yah....

Aku masuk VIS karena permintaan mama. Ia menganggap VIS cukup ekslusif dan memiliki pendidikan yang cukup baik. Aku sih tidak keberatan. Kacamataku mengatakan kalau VIS identik dengan sekolah khusus orang yang berduit atau pintar banget. Selain itu, salah satu yang khas dari VIS adalah Clique yang bermacam-macam. Rasanya setiap orang di sekolah ini punya kelompoknya masing-masing.

Sedangkan aku, sudah 2 bulan berlalu sejak terakhir kali aku punya clique resmi. Saat ini aku lebih sering kumpul bersama Ephine dan teman-temanku yang mayoritas cowok. Jujur saja, aku tidak punya banyak teman cewek. Aku bisa jadi seorang pemalas ketika harus bergaul dengan cewek yang suka bergosip, sombong, atau berteman kalau ada perlu saja. Aku lebih suka tipe seperti Ephine, ia sopan, tidak sombong, dan tidak suka bergosip. Well, bisa dibilang dia spesies yang cukup langka untuk ditemukan di VIS.

Kami berlima memasuki area parkir sambil ngobrol tentang apa yang ingin kami makan nanti. Tentu saja aku tidak serius tentang makan Pecel Lele itu.

Tiba-tiba Leonard menyikutku, “Eh, lihat deh...”

Aku mengaduh kesakitan. Aku tahu ia ingin menyikut lenganku, tapi tinggi Leonard yang berbeda jauh denganku membuat sasaran sikutnya jatuh di kepalaku. AOCHH! Nggak lagi deh berdiri dekat dia!

“Apaan sih, Le?” tanyaku sambil mengusap-usap kepala. Leonard hanya menggunakan lirikan mata untuk menunjukkan sesuatu yang menurutnya menarik.
Aku mengikuti pandangan matanya. BEGH!!

Rupanya dua orang dari ex-clique aku dan Leonard dulu. Julie, si cewek berambut ikal dan pacarnya,Otnil. Sekilas, nama Otnil dan Kudanil tidak berbeda jauh ya. Hehehe.

“Kasian yah Ju, si cewek murahan itu nggak punya kendaraan. Jadi nebeng orang terus deh.” Kata Otnil ketika aku membuka pintu sedan berkelir hitam milik Leonard.
Cewek murahan yang dimaksud Otnil itu aku.

“Hus!!” Julie melotot pada Otnil, ia menatapku dengan pandangan khawatir.
Leonard menatap Otnil, tidak suka. Sedangkan Ephine terlihat ingin menerkam cowok berkulit sawo matang itu.

“Aku kan Cuma ngomong fakta, Ju. Kamu juga bisa lihat dia sekarang kan? Apa aku salah?” kata Otnil lagi.

SHUT UP!!” seru Ephine, raut wajahnya menunjukkan kalau ia marah. “Lo tahu apa tentang Alya!”

Sakit.

Rasanya sangat menyakitkan ketika seseorang menyebut dirimu dengan kata murahan. Well, aku merasa seperti itu. Hanya saja, aku tidak ingin menunjukkan perasaan itu di depannya.

Calm down, Ephine.” Aku mengelus kepala Ephine. Untuk beberapa saat, aku merasa mataku berkaca-kaca, seiring dengan perasaan campur aduk yang kuat.

“Percuma ngeladenin orang kayak dia.” Kata Leonard tegas.

“Tapi elo nggak murahan!” cetus Ephine lagi. Ia menatap aku dan Otnil secara bergantian, lalu ia melanjutkan,“Kok lo bisa tenang banget sih?”

“Buat apa gue marah kalau itu nggak bener?” aku mengalihkan pandangan ke Otnil, “Kalau gue marah... berarti dia kira gue marah karena ketahuan murahan dong? Nggak banget...” Ephine hanya bisa diam setelah mendengar perkataanku.

“Sushi House udah nungguin kita. Masuk ke mobil gih.” Leonard memberi instruksi ketika melihat teman-temanku yang lain mulai sadar adanya perang dingin antara aku dan Otnil. Jangan sampai ada keributan terjadi di sini deh.

“Tuh dengerin apa kata kapten.” Aku menarik lengan Ephine dengan lembut, membukakan pintu dan memasukkan ia ke dalam mobil. Aku menatap Otnil sebelum masuk ke dalam mobil Leonard dan berkata,“Mendingan lo urus ban mobil Jazz tua lo itu.. Kempes tuh.” Kataku dingin, lalu menutup pintu mobil.

Mobil Leonard segera meninggalkan area parkir, diikuti mobil temanku yang lain. Kami segera menuju Sushi House, cacing di perutku sudah huru-hara minta makan. Di bangku belakang, Ephine menenangkan diri dengan minum mineral water yang ia bawa dari rumah. Sedangkan aku menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan diri setelah disebut wanita murahan.

“Alya,” panggil Leonard yang sedang di balik kemudinya.

“Apa?” tanyaku tanpa menoleh.

“Lo nggak bilang ke mereka kalau lo punya kendaraan?”

“Kendaraan apa? Sepeda?” tanyaku, jutek.

Cowok berkacamata itu tertawa, “Sejak kapan lo bisa naik sepeda?”

“Ih... Jelek!”

(to be continued... next Tuesday ya, Dahling!)

14.7.10

GG's Untitled Project

Hola, Girls!

Tahun depan, bakal ada serial baru yang sementara masih berjudul "GG's Untitled Project". Masih belum tahu apakah bakal jadi bagian dari Glam Girls Series atau dikeluarkan sebagai serial yang mandiri. Tapi yang jelas, tetap fabulous!

Doain semoga konsepnya di-approve di rapat redaksi ya.

Heart ya (ain't I always?),

GG