
Salah satu temen glam GG, Agnes, ngirimin fan fiction ber-setting Voltaire International School.
Penjelasan tentang Fan Fiction:
Karakter utama dalam Fan Fiction ini bernama Alya. Ia memiliki 3 orang teman dekat bernama Ephine dan Leonard.
Alya menganggap kehidupannya di VIS cukup menyenangkan bila dihabiskan bersama teman-temannya itu.Namun, ternyata ia tidak bisa terpisahkan dari bayang-bayang anggota mantan clique-nya. Pernyataan pedas dari anggota mantan clique Alya membuat ia harus bersikap dewasa dalam menghadapinya. Namun, kalau orang-orang itu tidak digertak sedikit, mereka tidak akan berhenti berkicau, bukan?
XoXo,
Agnes Retno
Well, GG juga nggak mau banyak basa-basi lagi, Girls. Enjoy!
------------------------------------------------------------------------------------
LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Satu)
Untuk kesekian kalinya, aku menarik napas panjang dan mengembuskannya. Jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah. Murid-murid berhamburan keluar kelas, begitu juga aku. Sambil berjalan, bola mataku mengamati cewek-cewek bersliweran di koridor VIS –Voltaire International School— yang lebih mirip dengan catwalk.
“Hey, Nice bag and interesting details.” Komentarku ketika seorang cewek berambut hitam panjang datang menghampiriku.
“Thank you. It’s Notting Hill Design bag.” Jawab Ephine sambil tersenyum, ia menekuk sikutnya sehingga tas berwarna biru muda itu terlihat lebih dekat denganku. Cewek berkulit putih itu melihat keraguan di wajahku, “Never heard of the designer, huh?”
Aku mengangguk pelan.
“Me neither. This bag was worn by Leighton Meester on Gossip Girl TV show.”
Tas yang terlihat simpel, juga menarik. Cocok untuk digunakan pelajar seperti kami. Walaupun aku tidak pernah mendengar nama desainernya, aku tahu tas yang Ephine –sahabatku— pakai ini memiliki kualitas yang sangat baik.
“Hey girls, sudah belum ngomongin tasnya? Kita laper nih.” Leonard, cowok bertubuh 180cm, mengingatkanku kalau kami sedang tidak sendirian. Di belakangku, ada 3 cowok yang daritadi memperhatikan pembicaraanku dengan Ephine. Salah satunya adalah Leonard.
“Sorriii... kalau udah ngomongin tas, suka lupa sama keadaan sekitar.” Ephine terkikik geli. Aku jadi ikutan ketawa melihat permintaan maaf Ephine yang lucu.
Josephine Renata, Ephine, adalah seorang cewek bertubuh ideal, berkulit putih, dan rambut hitamnya terurai indah. Ia juga mengaggumi keindahan tas, sama sepertiku. Selain itu, cewek penggemar sushi ini juga memiliki otak yang cerdas, terbukti dari nilainya yang tidak pernah kurang dari angka 80.
“Alya, kita mau makan dimana?” tanya Ephine ceria.
“Pecel Lele pinggiran jalan.” Aku tersenyum jahil.
“WHAT? NO FREAKIN WAY!!”
“Enak loh, lo harus coba.” Aku tertawa melihat raut wajah sahabatku yang berubah menjadi gahar. Sedetik kemudian, Ephine jadi merinding sendiri memikirkan makan di pinggir jalan.
Seperti yang kalian dengar, namaku Alya Lavandale. Aku terlahir di keluarga yang bekerja di bidang Otomotif dan komunikasi. Secara ekonomi, menurutku sih, keluarga kami biasa saja, nggak kaya banget dibandingkan keluarga Pradakso itu.
Lalu apalagi yah....
Aku masuk VIS karena permintaan mama. Ia menganggap VIS cukup ekslusif dan memiliki pendidikan yang cukup baik. Aku sih tidak keberatan. Kacamataku mengatakan kalau VIS identik dengan sekolah khusus orang yang berduit atau pintar banget. Selain itu, salah satu yang khas dari VIS adalah Clique yang bermacam-macam. Rasanya setiap orang di sekolah ini punya kelompoknya masing-masing.
Sedangkan aku, sudah 2 bulan berlalu sejak terakhir kali aku punya clique resmi. Saat ini aku lebih sering kumpul bersama Ephine dan teman-temanku yang mayoritas cowok. Jujur saja, aku tidak punya banyak teman cewek. Aku bisa jadi seorang pemalas ketika harus bergaul dengan cewek yang suka bergosip, sombong, atau berteman kalau ada perlu saja. Aku lebih suka tipe seperti Ephine, ia sopan, tidak sombong, dan tidak suka bergosip. Well, bisa dibilang dia spesies yang cukup langka untuk ditemukan di VIS.
Kami berlima memasuki area parkir sambil ngobrol tentang apa yang ingin kami makan nanti. Tentu saja aku tidak serius tentang makan Pecel Lele itu.
Tiba-tiba Leonard menyikutku, “Eh, lihat deh...”
Aku mengaduh kesakitan. Aku tahu ia ingin menyikut lenganku, tapi tinggi Leonard yang berbeda jauh denganku membuat sasaran sikutnya jatuh di kepalaku. AOCHH! Nggak lagi deh berdiri dekat dia!
“Apaan sih, Le?” tanyaku sambil mengusap-usap kepala. Leonard hanya menggunakan lirikan mata untuk menunjukkan sesuatu yang menurutnya menarik.
Aku mengikuti pandangan matanya. BEGH!!
Rupanya dua orang dari ex-clique aku dan Leonard dulu. Julie, si cewek berambut ikal dan pacarnya,Otnil. Sekilas, nama Otnil dan Kudanil tidak berbeda jauh ya. Hehehe.
“Kasian yah Ju, si cewek murahan itu nggak punya kendaraan. Jadi nebeng orang terus deh.” Kata Otnil ketika aku membuka pintu sedan berkelir hitam milik Leonard.
Cewek murahan yang dimaksud Otnil itu aku.
“Hus!!” Julie melotot pada Otnil, ia menatapku dengan pandangan khawatir.
Leonard menatap Otnil, tidak suka. Sedangkan Ephine terlihat ingin menerkam cowok berkulit sawo matang itu.
“Aku kan Cuma ngomong fakta, Ju. Kamu juga bisa lihat dia sekarang kan? Apa aku salah?” kata Otnil lagi.
“SHUT UP!!” seru Ephine, raut wajahnya menunjukkan kalau ia marah. “Lo tahu apa tentang Alya!”
Sakit.
Rasanya sangat menyakitkan ketika seseorang menyebut dirimu dengan kata murahan. Well, aku merasa seperti itu. Hanya saja, aku tidak ingin menunjukkan perasaan itu di depannya.
“Calm down, Ephine.” Aku mengelus kepala Ephine. Untuk beberapa saat, aku merasa mataku berkaca-kaca, seiring dengan perasaan campur aduk yang kuat.
“Percuma ngeladenin orang kayak dia.” Kata Leonard tegas.
“Tapi elo nggak murahan!” cetus Ephine lagi. Ia menatap aku dan Otnil secara bergantian, lalu ia melanjutkan,“Kok lo bisa tenang banget sih?”
“Buat apa gue marah kalau itu nggak bener?” aku mengalihkan pandangan ke Otnil, “Kalau gue marah... berarti dia kira gue marah karena ketahuan murahan dong? Nggak banget...” Ephine hanya bisa diam setelah mendengar perkataanku.
“Sushi House udah nungguin kita. Masuk ke mobil gih.” Leonard memberi instruksi ketika melihat teman-temanku yang lain mulai sadar adanya perang dingin antara aku dan Otnil. Jangan sampai ada keributan terjadi di sini deh.
“Tuh dengerin apa kata kapten.” Aku menarik lengan Ephine dengan lembut, membukakan pintu dan memasukkan ia ke dalam mobil. Aku menatap Otnil sebelum masuk ke dalam mobil Leonard dan berkata,“Mendingan lo urus ban mobil Jazz tua lo itu.. Kempes tuh.” Kataku dingin, lalu menutup pintu mobil.
Mobil Leonard segera meninggalkan area parkir, diikuti mobil temanku yang lain. Kami segera menuju Sushi House, cacing di perutku sudah huru-hara minta makan. Di bangku belakang, Ephine menenangkan diri dengan minum mineral water yang ia bawa dari rumah. Sedangkan aku menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan diri setelah disebut wanita murahan.
“Alya,” panggil Leonard yang sedang di balik kemudinya.
“Apa?” tanyaku tanpa menoleh.
“Lo nggak bilang ke mereka kalau lo punya kendaraan?”
“Kendaraan apa? Sepeda?” tanyaku, jutek.
Cowok berkacamata itu tertawa, “Sejak kapan lo bisa naik sepeda?”
“Ih... Jelek!”
(to be continued... next Tuesday ya, Dahling!)
9.8.10
Agnes Retno's Fan Fiction: LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Satu)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment