Aku teringat saat aku punya Clique yang beranggotakan 6 orang. Cewek berjumlah 3 orang dan sisanya cowok. Kami ber-6 bertemu karena duduk di kelas yang sama, yaitu kelas Biologi.
Aldo Purwanto adalah ketua Clique, ia berpacaran dengan anggota Clique kami yang bernama Reni. Sekedar Info, Reni sangat ingin Clique kami populer seperti Rashi and the gank. Social Climber adalah julukan yang tepat untuk menggambarkan Reni. Ia sering menyuruh kami mengenakan pakaian ini itu yang menurutnya keren dan berharap bisa menjadi trendsetter di VIS. Padahal pilihan pakaiannya membuat aku dan cewek-cewek Clique terlihat seperti, maaf, pelacur.
Reni juga sempat cemburu karena aku pernah membuatkan Aldo bubur waktu ia sakit. Well, Aldo yang minta karena Reni tidak bisa memasak untuknya. Aku sendiri menganggap, kita ini satu Clique, wajar dong perhatian? Toh aku tidak hanya perhatian pada cowok. Aku juga perhatian pada anggota Clique yang cewek.
Sekarang tentang Otnil dan Julie. Pada dasarnya mereka baik. Sayangnya Julie suka meremehkan orang, membicarakan secara terang-terangan sehingga sering terjadi pertengkaran antara Julie dan cewek di luar anggota Clique. Sedangkan Otnil, aku tidak punya masalah dengannya. Kata Aldo, setelah aku keluar Clique, Otnil dijejali cerita berlebihan oleh Reni tentang kecemburuannya. Hal itu membuat Otnil mengira aku cewek yang suka mengganggu hubungan orang. Berawal dari situ, ia menyebutku cewek murahan.
Sisanya, Leonard. Ia muak melihat tingkah dan pola pikir anggota Clique. Ketika aku memutuskan untuk keluar dari Clique, ia memilih untuk ikut keluar denganku.
Tok tok tok...
“Alya, mama masuk ya.”
Mendengar namaku dipanggil, lamunanku langsung buyar. Aku terduduk tegak. Dari balik pintu, muncul sosok mama. Ia membawa sebuah bungkusan mungil yang terbalut dalam kain putih. Mama duduk di sisi tempat tidur.
“Sudah mau tidur?” tanya mama lembut. Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Mama punya kejutan buat kamu,” senyum mama melebar tanpa bisa ia tahan. Ia membuka bungkusan mungil yang ia bawa. Di dalam bungkusan itu, berbaring sebuah logam berwarna perak. Sebuah kunci. “Kendaraan kamu sudah sampai di rumah. Masa pembelajaran kamu naik kendaraan umum sudah selesai.”
*
“Jadi, cerita kalau lo nggak dikasih kendaraan.... Gara-gara nyokap nyuruh lo belajar naik kendaraan umum itu.... Beneran?”
Aku menjawab pertanyaan Ephine dengan anggukan mantap. Leonard yang baru saja melahap habis sepiring nasi gorengnya langsung tergelak. “Nyokap lo ngira lo belajar naik kendaraan umum.. Padahal lo selalu ikut gue. Kacau kacau...”.
Aku memicingkan mata dan berlagak sok galak, “Itu kan karena elo berbaik hati menawarkan jasa angkut ke depan gang rumah gue. Jadi gue nggak perlu naik kendaraan umum..”
Leonard terlihat menahan tawanya, “Lagian waktu pertama kali elo pulang sekolah naik angkot, lo langsung nyasar berjam-jam. Ujung-ujungnya lo nelpon gue karena nggak tahu arah... Mana tega gue ngelepas lo sendirian di jalan, ada juga ntar nyusahin gue.”
Giliran Ephine dan teman-teman yang lain tertawa terpingkal-pingkal.
“Terus, lo dapet mobil apa dari nyokap?” tanya Ephine penasaran.
Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum memamerkan deretan gigiku. “Mobil mini berkelir putih.”
*
Ketika bel tanda usai sekolah berbunyi, aku memasukkan buku pelajaran dan kotak pensil ke dalam Fendi Twins Woven Raffia-ku. Beberapa teman sekelasku tampak tidak melepaskan pandangan dari tas berkelir kuning ini.
“Love the tote. Looks pretty and useful.” Tulus, Helena yang duduk di depanku tersenyum.
“Thank you, dear.” Mataku tertuju pada tas berkelir abu-abu yang Helena pakai. “Mulberry Alexa? It looks gorgeous to me.”
“Thanks, Darling. Sebenarnya agak susah memadukan bentuk klasik ini dengan seragam VIS.” Ucap Helena berseri-seri. “Oh well, gotta go. See you tomorrow, Al.”
Sosok Helena menghilang di balik pintu kelas, tergantikan oleh Ephine. “Pulang, yuk!” sahut sahabatku itu. “Hari ini gue dijemput supir, tapi gue tetep mau ikut lo ke parkiran. Leo dkk udah di parkiran, yuk, kita susul mereka!”
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah cepat Ephine menuju parkiran. Sambil berjalan, Ephine bercerita tentang praktik membedah kelinci di kelas Biologinya. Ia bercerita dengan bersemangat dan berapi-api. Membuatku tertawa dan bergidik ngeri mendengar kelinci yang diracuni lalu di bedah.
Sampai di area parkir, aku melihat sosok Leo di balik mobil sedan berkelir hitamnya. Aku dan Ephine berlari kecil menghampiri cowok bertubuh atletis itu. Namun, sebelum kami sampai di tempatnya, aku melihat sosok lain berdiri di depan Leo dan kawan-kawan.
Otnil.
Ngapain si culun itu di sini?
“Gue harap lo lebih menjaga kata-kata lo di depan Alya.” Kata Leo dengan penekanan.
“Kok lo ikut campur sih?” balas Otnil tidak suka. “Gue kan nggak ada masalah sama lo.”
“Lo sendiri? Bukannya dulu elo dan Alya nggak ada masalah?” Leo terlihat tenang, tapi aku bisa merasakan kemarahan di balik suaranya. “Bisa-bisanya lo ngatain dia.”
Otnil hanya bisa diam. “Lo nggak tahu apa-apa tentang Alya!!”
“ELO YANG NGGAK MAU TAHU TENTANG DIA!” Leonard memukul kap mesin mobilnya, tanda kesabarannya sudah habis. Aduh, sayang mobilmu, Le.
Aku segera berjalan menghampiri Otnil. Leonard tampak kaget. Sedangkan Ephine berusaha mengejarku lalu ditahan oleh Leonard. Aku mendorong cowok yang tingginya tidak jauh berbeda denganku. Punggung cowok itu, Otnil, menabrak kap mesin Honda Jazz berkelir silver-nya. Tentu saja aku tidak membiarkan si culun ini berbicara.
“Gue nggak akan menghabiskan banyak waktu untuk lo. Dengarkan baik-baik..” aku meremas kerah cowok itu.
“Otnil Wibowo, gue nggak minta lo menarik semua omongan lo. Tapi, kalau gue denger lo ngatain gue dengan sebutan kasar lagi, gue bisa memastikan hidup lo di VIS nggak akan setenang sekarang.” Gertakku. “Jangan kira gue nggak bisa menyebarkan fakta menyedihkan tentang lo untuk membalas perkataan lo tempo hari.”
“Apa...maksud... lo?” tanya Otnil terbata.
“Otnil, sayang, lo nggak lupa dengan nasib Maylanie yang elo porotin itu kan? Gawd... Sebagai seorang cowok, sangat memalukan kalau berani morotin mantan ceweknya demi memenuhi kebutuhan Julie, cewek lo sekarang..... Lo punya harga diri sebagai cowok nggak sih?” Aku memutar bola mataku. “Yang nggak modal itu, gue atau elo sih?”
Aku menjauhkan diriku dari Otnil yang terlihat lemas. “Gue harap lo menjaga tingkah laku lo. Sikap lo bisa menjadi bumerang buat diri lo sendiri. Jangan menilai orang dari penampilan atau uangnya saja...karena lo nggak selalu tahu siapa sebenarnya orang yang lo hadapi. Nggak usah berlagak loe paling kaya di sini jadi berani macam-macam, orang lain tuh bisa ketawa ngeliat kelakuan lo.”
Ada jeda panjang sebelum aku melanjutkan, “Anyway, I’m a bitch when I want to be. So, behave yourself, dumb ass.”
Aku menghampiri Leonard dan Ephine. Mereka terlihat cemas. Ekspresi wajah mereka membuatku terkikik geli. “Sudah selesai kok masalahnya, percaya sama aku.... ya...” sahutku. “Le, makasih udah ngebelain gue.” Aku mengelus punggung Leonard dengan lembut. Berharap bisa meredakan emosinya.
“Mau pulang sekarang?” tanya Ephine, ia tampak tidak sudi melihat Otnil. Aku mengangguk dan mengambil kunci mobil dari tas Fendi-ku.
“Wow, mobil baru. Gue nggak perlu nganter lo lagi dong?” tanya Leonard berseri-seri.
“Benar sekali... ,Terima kasih atas jasa angkutmu selama 4 bulan ini, Agen Leo.”
Balasku.
“Bayarannya mana?” tagih Leonard. Rasanya lega melihat ia sudah bisa tersenyum jahil.
“Kan udah dibayar pake senyum dan terima kasih.” Sahutku sambil membuka pintu Ford Focus berkelir putihku.
“Ogah banget. Gimana kalau elo gantian nyetirin gue. Kaki gue juga perlu istirahat.” Leonard membuka pintu sedan berkelir hitamnya.
“Boleh saja. Tapi nyetirin lo membutuhkan banyak asupan makanan. Jadi, minimal lo harus ngasih gue makanan dari Tamani Cafe.” Aku tergelak, begitu juga Ephine.
“Diem!”
*
6.1.11
Agnes Retno's Fan Fiction: LIHAT PRIBADIKU, BUKAN YANG LAIN (Bagian Dua)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment